Skip to main content

VIRAL! Demi Sekolah, Siswa SDN 72 Kaur Harus Perbaiki Jembatan Rusak Dulu

Pemandangan pilu terlihat di Desa Air Palawan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Setiap pagi dan sore, anak-anak SD Negeri 72 Kaur harus berjuang melewati jembatan kayu yang rusak dan lapuk demi bisa sampai ke sekolah.

 

Mereka tak bisa langsung lewat. Mereka harus berhenti dulu di ujung jembatan, berjongkok, membenahi papan-papan kayu yang sudah lepas dan berlubang, baru berani menyeberang satu per satu dengan jantung berdebar.

 

"Harus berhati-hati dan berhenti dulu sebentar untuk memperbaiki papan jembatan supaya bisa dilewati," ujar Marlaini, Guru SDN 72 Kaur dengan nada prihatin.

 

Jembatan itu adalah satu-satunya akses mereka menuju sekolah. Di bawahnya mengalir sungai. Jika salah pijakan, nyawa menjadi taruhannya. Namun semangat anak-anak untuk menuntut ilmu jauh lebih besar dari rasa takut mereka.

 

Sudah bertahun-tahun kondisi jembatan ini memprihatinkan. Papan kayu sudah banyak yang patah, paku-paku berkarat, dan penyangga mulai rapuh dimakan usia. Saat hujan tiba, jembatan menjadi licin dan semakin berbahaya.

 

Pertanyaannya kini, sampai kapan anak-anak penerus bangsa di ujung Bengkulu ini harus terus bertaruh nyawa demi menuntut ilmu?

 

Masyarakat Desa Air Palawan berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kaur, Pemerintah Provinsi Bengkulu, dan pemerintah pusat untuk segera membangun jembatan yang layak, aman, dan permanen.

 

Jangan tunggu ada korban jiwa baru dibangun. Pendidikan mereka adalah masa depan Kaur, masa depan Bengkulu, masa depan Indonesia.

 

(Editor: Tasman)